Bahasa Korea: Sejarah, Alfabet, dan Frasa Sehari-hari

oleh Gurunakal

Bahasa Korea adalah salah satu bahasa asing yang paling banyak diminati di Indonesia dan belahan dunia lainnya. Salah satu penyebab banyaknya orang Indonesia yang ingin mempelajari bahasa Korea adalah pengaruh budaya Korea yang cukup besar dan kuat.

Sejarah Singkat Bahasa Korea


Bahasa Korea disebut-sebut sebagai salah satu bahasa tertua di dunia. Namun, asal-usul bahasa ini tidak jelas. Sejumlah teori yang diajukan oleh para cendekiawan Barat abad ke-19 menyebutkan kalau bahasa Korea memiliki hubungan dengan bahasa Ural-Alta, Jepang, China, Tibet, Dravida Ainu, Indo-Eropa, dan bahasa lainnya.

Menurut ahli bahasa, bahasa Korea kemungkinan besar adalah kerabat jauh dari rumpun bahasa Ural-Altaic yang mencakup beragam bahasa seperti Mongolia, Finlandia, dan Hongaria. Secara linguistik, bahasa Korea tidak berhubungan dengan bahasa China dan mirip dengan, tetapi berbeda dari bahasa Jepang.

Semenanjung Korea, tempat di mana bahasa Korea diucapkan secara luas mengalami perkembangan dialek yang berbeda-beda. Ini dapat bergantung pada siapa yang berkuasa di semenanjung yang kini terdiri dari dua pemerintahan yang berbeda.

Selama abad ke-7 misalnya, ketika Kerajaan Silla menaklukkan Kerajaan Paekche di barat daya Korea dan Koguryo di utara, dialek Silla menjadi bahasa yang dominan. Lalu menyusul munculnya Dinasti Koryo pada abad ke-10, ibu kota nasional dipindahkan ke kota Kaesong dan dialek Kaesong menjadi standar bahasa nasional.

Akan tetapi, ketika Dinasti Choson yang didirikan pada akhir abad ke-14 berkuasa dan memindahkan ibu kotanya ke Seoul, dialek bahasa yang digunakan masih dialek Kaesong. Kedekatan geografis antara ibu kota baru Seoul dengan Kaesong tidak menyebabkan perubahan signifikan dalam bahasa tersebut.

Bahasa Korea tidak hanya tentang satu dialek. Ada sejumlah dialek regional di Korea yang sebagian besar ditentukan oleh variasi tekanan yang ditempatkan pada suku kata dan kata-kata tertentu dan secara longgar ditentukan oleh batas-batas provinsi. Kecuali dialek Pulau Jeju, dialek-dialek daerah tersebut cukup mirip sehingga orang Korea tidak kesulitan memahami satu sama lain.

Lalu bagaimana dengan sistem penulisan bahasa Korea? Ahli bahasa menyebut kalau bahasa tertulis Korea terdiri dari tiga bagian: Hangeul (alfabet modern Korea), Hanja (kumpulan karakter China yang telah dimasukkan ke dalam bahasa Korea), dan Mi-ahl’ bhet-gul (alfabet Barat yang digunakan pada rambu-rambu jalan, jadwal kereta api, dan bahkan beberapa surat kabar).

Hanja adalah sistem penulisan tertua di Korea yang digunakan sebagai bahasa pemerintahan dan bisnis. Namun, karena hanya orang-orang terpelajar saja yang dapat membaca, menulis, dan menerbitkan dalam bahasa China, Raja Sejong, raja ke-4 dari Dinasti Yi (1418 – 1450), memutuskan untuk merancang metode penulisan yang cocok untuk semua orang Korea, terlepas dari kelas mereka.

Pada tahun 1440, Raja Sejong menugaskan para cendekiawan dari Akademi Kerajaan untuk membuat alfabet fonetik yang unik, sederhana, dan mudah dipelajari. Selanjutnya pada tahun 1446, Raja Sejong memperkenalkan kepada orang Korea alfabet mereka sendiri, alfabet yang ditemukan oleh orang Korea untuk orang Korea.

Alfabet tersebut terdiri dari 28 huruf yang mudah dipelajari dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa disebutkan kalau alfabet ini merupakan salah satu bentuk cinta raja kepada seluruh warganya, khususnya yang berada di kelas sosial rendah, untuk dapat mengekspresikan pemikiran-pemikiran mereka dengan mudah.

Penerapan sistem penerapan alfabet Raja Sejong tidak bisa dibilang berjalan lancar. Ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit agar digunakan oleh mayoritas orang Korea. Bahkan ahli bahasa menyebutkan kalau penentangan terhadap aksara baru tersebut, terutama dari kalangan terpelajar, berlangsung hingga berabad-abad lamanya.

Alfabet Raja Sejong, yang selanjutnya dikenal sebagai Hangeul pada permulaan abad ke-20, kini telah menjadi sistem penulisan di seluruh Korea. Ia tidak hanya memberi kemudahan bagi warga Korea untuk mengekspresikan pemikiran, tapi juga menjadikan orang Korea salah satu yang paling terpelajar di dunia.

Meski Hangeul telah secara luas digunakan, beberapa Hanja masih dipertahankan karena dinilai memberikan keuntungan. Kini penggunaan Hanja dapat dilihat di tulisan-tulisan akademik dan resmi. Di Korea Selatan, semua sekolah menengah dan sekolah menengah atas mengajarkan aksara-aksara Hanja yang dianggap penting. Sementara di Korea Utara, Hanja yang dipandang sebagai bentuk imperialisme budaya sama sekali ditolak.

Hari ini, alfabet Hangeul modern terdiri dari 24 huruf, dengan menghilangkan tiga konsonan dan satu vokal. Karena vokal dan konsonan Hangeul digabungkan untuk menunjukkan satu suara (fonem), alfabet Korea modern ini sebenarnya terdiri dari 40 karakter, yaitu 14 konsonan, 5 konsonan ganda (tekanan) 10 vokal, dan 11 diftong atau vokal ganda.

Menariknya, Hangeul juga kini tidak hanya digunakan sebagai sistem penulisan bahasa Korea, tapi juga digunakan secara tidak resmi sebagai sistem penulisan bahasa Cia-Cia atau bahasa Buton Selatan di Sulawesi. Ini terjadi setelah adanya penelitian yang dilakukan oleh seorang guru besar asal Korea, Prof. Chun Thay Hyun, di Cia-Cia yang pada waktu itu belum memiliki alfabet sendiri, serta adanya kesamaan pelafalan dan struktur bahasa dengan Korea.

Hangeul / Alfabet Korea


Korea, bahasa resmi di Semenjanjung Korea, menggunakan Hangeul sebagai alfabet dan sistem penulisannya. Hangeul atau 한글 terdiri dari dua kata, yaitu “Han” (한) yang berarti orang Korea dan “geul” (글) yang berarti huruf atau aksara. “Hangul” adalah cara yang paling umum digunakan dalam aksara Latin, dan “Hangeul” adalah cara penulisan yang lebih baru.

Seperti yang telah disebutkan di atas, Hangeul modern terdiri dari 14 huruf konsonan (ㄱ ㄴ ㄷ ㄹ ㅁ ㅂ ㅅ ㅇ ㅈ ㅊ ㅋ ㅌ ㅍ ㅎ) dan 10 huruf vokal (ㅏ ㅑ ㅓ ㅕ ㅗ ㅛ ㅜ ㅠ ㅡ ㅣ). Jika dipelajari lebih jauh, ada 16 huruf kompleks tambahan, yang terdiri dari 5 konsonan ganda (ㄲ ㄸ ㅃ ㅉ ㅆ) dan 11 diftong (ㅢ ㅚ ㅐ ㅟ ㅔ ㅒ ㅖ ㅘ ㅝ ㅙ ㅞ). Mereka dibentuk dengan menggabungkan huruf-huruf dasar.

Tidak seperti bahasa China atau Jepang yang memiliki ratusan atau bahkan ribuan karakter – masing-masing dengan 10, 15, atau bahkan lebih banyak goresan – huruf (atau karakter) Korea yang paling kompleks hanya memiliki lima goresan. Ini membuatnya lebih mudah dipelajari bahkan bagi pemula yang baru mengenal bahasa Korea.

Lebih dari itu, Hangeul adalah alfabet yang sangat ilmiah dan menjadi satu-satunya aksara yang diciptakan oleh seorang individu berdasarkan teori dan maksud yang telah direncanakan dengan baik. Pengembangnya yang tak lain adalah Raja Sejong ingin memberi orang Korea cara praktis membaca dan menulis untuk mempromosikan literasi.

Frasa Sehari-hari dalam Bahasa Korea


Berikut adalah frasa sehari-hari dalam bahasa Korea yang perlu diketahui:

  • Terima kasih: 고맙습니다 (gomapseumnida)
  • Tidak apa-apa atau terima kasih kembali: 천만에요 (cheonmaneyo)
  • Maaf: 미안합니다 (mianhamnida)
  • Tidak apa-apa: 괜찮아요 (gwaenchanayo)
  • Halo: 안녕하세요? (annyeonghaseyo?)
  • Permisi (untuk mendapatkan perhatian): 저기요 (jeogiyo)
  • Maaf (untuk meminta maaf): 실례합니다 (sillyehamnida)
  • Permisi (untuk melewati seseorang) 잠시만요 (jamsimanyo)
  • Halo (di telepon): 여보세요 (yeoboseyo)
  • Selamat pagi: 안녕하세요? (annyeonghaseyo?)
  • Selamat malam: 안녕하세요? (annyeonghaseyo?)
  • Tidur (yang) nyenyak (ya): 잘 자요 (jal jayo)
  • Mimpi (yang) indah (ya): 좋은 꿈 꿔요 (joeun kkum kkwoyo)
  • Selamat tinggal (kepada orang yang pergi): 안녕히 가세요 (annyeonghi gaseyo)
  • Selamat tinggal (untuk orang yang tinggal): 안녕히 계세요 (annyeonghi gyeseyo)
  • Sampai jumpa (pulang dengan selamat): 잘 가요 (jal gayo)
  • Semoga harimu menyenangkan: 좋은 하루 보내세요 (joeun haru bonaeseyo)
  • Semoga perjalananmu menyenangkan: 여행 잘하세요 (yeohaeng jalhaseyo)
  • Selamat datang: 환영합니다 (hwanyeonghamnida)
  • Ya: 네 (ne)
  • Tidak: 아니요 (aniyo)
  • Mungkin / barangkali / boleh jadi: 아마도 (amado)
  • (Tunggu) sebentar!: 잠깐만요! (jamkkanmanyo!)
  • Aku merasa sakit: 아파요 (apayo)
  • Saya perlu dokter: 의사가 필요해요 (uisaga piryohaeyo)
  • Bawa saya ke rumah sakit (naik taksi): 병원에 가주세요 (byeongwone gajuseyo)

Pelajari juga:

Referensi


  1. Boeton, Fino. (17 Juli 2007). “Seperti Ini Awal Mula Suku Cia-cia Menggunakan Aksara Korea.” Kumparan. Diakses 8 Juni 2021.
  2. Diana. “A Quick Guide to Hangul, the Korean Alphabet – Pronunciation and Rules” (dalam bahasa Inggris). ATi Studios, mondly.com. Diakses 8 Juni 2021.
  3. Hangeul.” Wikipedia. Diakses 8 Juni 2021.
  4. Hallen, Cynthia dan Lee, Michelle. (6 September 1999). “The History of Korean Language, The Overview” (dalam bahasa Inggris). Department of Linguistics, Brigham Young University, linguistics.byu.edu. Diakses 8 Juni 2021.
  5. Korean Alphabet – Learn the Hangul Letters and Character Sounds” (dalam bahasa Inggris). 90 Day Languages LLC, 90daykorean.com. Diakses 8 Juni 2021.
  6. Korean Phrases – Basic Sentences for Travel & Everyday Life with Audio” (dalam bahasa Inggris). 90 Day Languages LLC, 90daykorean.com. Diakses 8 Juni 2021.

Baca juga yang ini

Tulis unek-unek