Ibu Kota Kalimantan Timur dan Sejarah Singkatnya

oleh Gurunakal

Kalimantan Timur merupakan provinsi terluas keempat di Indonesia setelah Provinsi Papua, Provinsi Kalimantan Tengah, dan Provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota Kalimantan Timur adalah Samarinda yang merupakan salah satu kota terbesar di Pulau Kalimantan.

Peta Kota Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur

Lokasi Kota Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur
Sumber: Wikipedia

Sejarah Singkat Samarinda


Sejarah awal Samarinda dapat ditelusuri hingga abad ke-13 Masehi (tahun 1201-1300). Pada masa itu, Samarinda yang dikenal sekarang merupakan perkampungan penduduk yang tersebar di enam lokasi, yaitu Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan), dan Mangkupelas (Mangkupalas).

Keenam nama kampung tersebut tercantum dalam manuskrip surat Salasilah (Silsilah) Raja Kutai Kertanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada tanggal 30 Rabiul Awal 1265 Hijriyah (24 Februari 1949 Masehi). Manuskrip itu kemudian menjadi rujukan ahli sejarah berkebangsaan Belanda yang bernama Constantinus Alting Mees yang menghasilkan catatan berjudul De Kroniek van Koetai.

Suku Kutai Kuno yang disebut Melanti dipercaya sebagai penduduk awal yang mendiami bagian timur Pulau Kalimantan. Jadi, bisa disimpulkan kalau penduduk yang mendiami perkampungan di atas adalah Suku Kutai Kuno. Mereka termasuk ras Melayu Muda (Melayu Deutero) sebagai hasil percampuran ras Mongoloid, Melayu, dan Wedoid yang migrasi dari Semenanjung Kra pada abad ke-2 Sebelum Masehi (SM).

Saat Kerajaan Kutai Kertanegara didirikan pada tahun 1300 M di Kutai Lama oleh Maharaja Aji Batara Agung Dewa Sakti, kawasan perkampungan itu masuk ke dalam wilayah kerajaan tersebut.

Dalam perjalanannya, Kerajaan Kutai Kertanegara banyak didatangi dan ditinggali oleh penduduk dari daerah lain. Contohnya seperti suku Banjar dari Kalimantan Selatan (suku ini juga menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur) dan orang Bugis Wajo dari tanah Kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan).

Adanya pendatang dari daerah lain, khususnya orang Bugis Wajo ke Kerajaan Kutai Kertanegara menjadi cikal bakal lahirnya Kota Samarinda yang kita kenal sekarang. Bahkan, penetapan hari jadi Kota Samarinda didasarkan pada peristiwa kedatangan rombongan Bugis Wajoke wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara pada tanggal 21 Januari 1668 Masehi (bertepatan dengan tanggal 5 Sya’ban 1078 Hijriyah).

Asal-Usul Nama Samarinda


Noor, Rasyid, & Achmad (1986) mengungkapkan kalau Kota Samarinda tumbuh dari tiga kampung pemukiman suku Kutai puak Melanti, yaitu Kampung Mangkupalas, Karamumus dan Karang Asam. Ketiga kampung ini bergabung dengan Kelurahan Ulu Dusun di Kutai Lama di bawah pimpinan Ngabehi Ulu.

Noor dkk. (1986) juga menjelaskan bahwa pada permulaan abad ke-18, pendatang Bugis Wajo di bawah pimpinan La Mohang Daeng Mangkona, pengikut La Maddukelleng putra Arung Paneki dari daerah Wajo mulai berdatangan ke daerah Kerajaan Kutai.

La Mohang selanjutnya menghadap Raja Kutai Lama Ali Pangeran Dipati Anom Panji Mendapa Ing Martapura (Marhum Pamarangan 1730 – 1732) untuk mohon izin agar mereka diperbolehkan berdiam di wilayah kerajaannya.

Raja kemudian memberi mereka izin untuk tinggal di Kutai. Akan tetapi, mereka harus harus mencari pemukiman di sekitar Sungai Mahakam, di antara dua dataran rendah. Orang-orang Wajo akhirnya menemukan tempat itu dan menamakannya “Samarinda” yang terbentuk dari dua kata, yaitu “sama” dan “rendah”. 

Sementara itu, Pemerintah Kota Samarinda dalam portal resminya menyebutkan kalau asal usul terciptanya nama Samarinda memiliki beberapa versi.

Versi Pertama

Menurut versi pertama, nama Samarinda didasarkan pada tatanan rumah rakit atau terapung penduduk Bugis Wajo yang memiliki ketinggian yang sama, sehingga disebut “sama rendah”. Dua kata itu selanjutnya membentuk kata tunggal “Samarinda”.

Versi Kedua

Dalam versi kedua disebutkan bahwa nama Samarinda didasarkan pada ketinggian Sungai Mahakam yang sama rendah dengan daratan di tepiannya. Dari sana kemudian muncul nama Samarinda.

Versi Ketiga

Menurut versi ketiga, nama Samarinda berasal dari kata dalam Bahasa Sanskerta, yaitu “samarendo” yang berarti selamat sejahtera.

Versi Keempat

Dalam versi ini, nama Samarinda didasarkan pada cerita rakyat yang menyebutkan kalau nama kota itu adalah gabungan dari dua kata Bahasa Melayu “samar” dan “indah”.

Samarinda Sekarang


Hingga saat ini, Samarinda terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kota paling penting di Pulau Kalimantan. Bahkan, Samarinda menjadi kota terpadat di seluruh Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk sebanyak 812.597 jiwa (sensus 2015).

Beberapa faktor yang menyebabkan Kota Samarinda berkembang pesat antara lain ialah letaknya yang strategis serta kekayaan sumber alamnya (terutama di sektor perkayuan, minyak dan gas bumi), baik di daerah pedalaman maupun di sekitarnya. Maka dari itu, tak heran jika Samarinda kini berubah menjadi kota yang padat penduduk dari bermacam-macam suku bangsa.

Referensi


  1. Noor, Moh., et al. Sejarah Kota Samarinda. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1986. File PDF.
  2. Rachmady, Noviyanto. Sejarah Samarinda :: Kota Samarinda, www.samarindakota.go.id/website/laman/sejarah-samarinda.

Baca juga yang ini

Tulis unek-unek