Ibu Kota Sulawesi Tenggara dan Sejarah Singkatnya

oleh Gurunakal

Sulawesi Tenggara adalah sebuah provinsi yang terletak di bagian tenggara Pulau Sulawesi. Dibentuk pada tanggal 27 April 1964, Sulawesi Tenggara merupakan provinsi terluas ke-18 di Indonesia dengan luas total sekitar 38.140 km². Ibu kota Sulawesi Tenggara adalah Kota Kendari.

Kendari, Ibu kota Sulawesi Tenggara

Lokasi Kota Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara
Sumber: Wikipedia

Sejarah Singkat Kota Kendari


Kendari adalah sebuah kota pesisir yang terletak di Pantai Timur Pulau Sulawesi, tepatnya di Teluk Kendari yang terlindungi. Keberadaan teluk tersebut sudah diketahui sejak berabad-abad yang lampau oleh para pelaut Nusantara maupun Eropa sebagai jalur persinggahan dari dan menuju Ternate atau Maluku yang merupakan pusat rempah-rempah dunia yang legendaris.

Kendari di Masa Lampau

Catatan awal mengenai Kota Kendari dapat ditelusuri hingga abad ke-15. Pada permulaan abad tersebut, Kartografi Portugis Kuno menunjukkan adanya perkampungan bernama Citta dela Baia yang terletak di Pantai Timur Celebes atau Sulawesi, tepatnya di pesisir teluk bernama Baia du Tivora.

Perairan itu disebut-sebut mirip dengan Teluk Kendari yang pada waktu itu merupakan salah satu daerah di pesisir timur Kerajaan Konawe. Kerajaan tersebut juga memiliki sebutan tersendiri untuk Kendari, yaitu Lipu i Pambandahi, Wonua i Pambandokooha yang artinya adalah wilayah pesisir pantai, yang perkampungannya berada di dekat pulau.

Beberapa abad kemudian, tepatnya pada tahun 1828, observasi terhadap jalur perdagangan di pesisir timur Sulawesi mulai dilakukan oleh pelaut bernama Jacques Nicholas Vosmaer sebagai tugas dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa itu. Observasi tersebut menghasilkan peta pertama Teluk Kendari yang dibuat pada tanggal 9 Mei 1831.

Setahun kemudian, Vosmaer mendirikan kantor dagang di Teluk Kendari setelah mendapat izin dari Tebau yang merupakan penguasa wilayah timur Kerajaan Konawe. Ia juga membangunkan istana untuk Tebau di sisi utara Teluk Kendari. Pusat Pemerintahan Tebau yang sebelumnya terletak di Lepo-Lepo kemudian dipindahkan ke istana baru di Teluk Kendari.

Adanya pemindahan istana tersebut menjadi cikal bakal berkembangnya Kendari sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di Pantai Timur Sulawesi. Selanjutnya pada tanggal 6 Februari 1835, Teluk Kendari dikenal dengan sebutan Vosmaer’s Baai atau Teluk Vosmaer. Penetapan nama perairan itu didasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Van Den Bosch di Batavia.

Seiring berjalannya waktu dan berakhirnya ekspedisi Vosmaer di Kendari, maka sebutan Teluk Vosmaer berubah menjadi Teluk Kendari dan berlaku hingga saat ini.

Kendari Setelah Kemerdekaan

Status Kota Kendari pada masa pemerintahan Kolonial Belanda dan Pendudukan Jepang adalah wilayah kewedanaan sekaligus ibu kota Onder Afdeling atau Bun Ken Laiwoi, dengan luas wilayah sekitar 31,40 km². Setelah kemerdekaan, status Kota Kendari yang sebelumnya sebagai ibu kota kecamatan berkembang menjadi ibu kota kabupaten Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi.

Kemudian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara muncul, sehingga mengubah status Kota Kendari menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, Kota Kendari terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan, hingga statusnya menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II dengan luas wilayah sekitar 298,89 km² (melalui UU Nomor 6 Tahun 1995).

Asal Usul Nama Kendari


Asal-usul nama Kota Kendari disebutkan berasal dari kata “kandai” yang artinya dayung (alat dari bambu atau kayu yang dipergunakan penduduk Teluk Kendari untuk mendorong perahu). Namun, ada hal unik dibalik penyebutan nama kota ini.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bangsa Eropa, khususnya Portugis telah hadir di perairan Teluk Kendari sejak abad ke-15. Pada saat mereka singgah di wilayah tersebut, mereka disebutkan bertemu dengan warga lokal yang mendorong rakit bambu menggunakan dayung panjang.

Kemudian orang Portugis mendekati warga tersebut dan menanyakan nama kampung yang mereka singgahi. Mungkin karena ada keterbatasan bahasa atau alasan lainnya, warga tersebut mengira kalau orang Portugis tersebut menanyakan apa yang ia sedang kerjakan. Jadi, ia langsung menjawab “kandai” yang artinya dayung atau mendayung (mekandai).

Selanjutnya jawaban tersebut dicatat oleh orang Portugis sebagai pertanda bahwa kampung yang mereka singgahi itu bernama Kandai. Pengembangan dari kata tersebut dalam berbagai literatur terakhir kemudian disebut Kendari.

Referensi


  1. Melamba, Basrin. “Asal Muasal Nama Kendari.” Suara Kendari, 8 Jan. 2019, www.suarakendari.com/asal-muasal-nama-kendari-2.html.
  2. “Sejarah Kota Kendari.” Kendarikota.go.id, 19 Agu. 2019, www.kendarikota.go.id/page/detail/sejarah-kota-kendari.

Baca juga yang ini

Tulis unek-unek