Jenis-jenis Paragraf Beserta Contohnya

oleh Gurunakal

Halo semuanya, kali ini Gurunakal akan membahas jenis-jenis paragraf beserta contohnya agar kalian lebih mudah memahami. Ayo baca seluruh isi bahasannya agar pengetahuan bertambah banyak.

jenis-jenis paragraf

Sumber: Iconscout (Lisensi Creative Commons)

Jenis-jenis Paragraf


Sebuah paragraf merupakan pengembangan gagasan dari sebuah kalimat. Kalimat tersebut disebut gagasan utama, sedangkan kalimat-kalimat lainnya disebut kalimat penjelas.

Pada umumnya, orang cenderung menyampaikan gagasan utama terlebih dahulu sebelum gagasan penjelas. Namun, karena ada kepentingan dalam teknik penulisan, muncullah beberapa cara dalam menyampaikan gagasan melalui jenis-jenis paragraf berikut ini.

1. Paragraf Deduktif (Umum-Khusus)

Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan umumnya terletak di awal paragraf. Gagasan umum atau gagasan utamanya dinyatakan dalam kalimat pertama, kemudian diikuti beberapa gagasan penjelas (kalimat penjelas).

Contoh:


Setiap individu bersifat unik. Artinya, ia memiliki perbedaan dengan yang lain. Perbedaan itu bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir, dan cara merespon atau mempelajari hal baru. Misalnya dalam menyerap pelajaran, ada individu yang cepat dan ada juga yang lambat.


Paragraf di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Kalimat Utama: Setiap individu bersifat unik.
  • Kalimat Penjelas:
    1. Artinya, ia memiliki perbedaan dengan yang lain. Perbedaan itu bermacam-macam, mulai dari perbedaaan fisik, pola berpikir, dan cara merespon atau mempelajari hal yang baru.
    2. Misalnya dalam menyerap pelajaran, ada individu yang cepat dan ada  juga yang lambat.

2. Paragraf Induktif (Khusus-Umum)

Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di akhir paragraf atau pada kalimat penutup paragraf. Paragraf ini dikembangkan dengan cara menguraikan data empiris berupa fakta, bukti, atau alasan sebagai gagasan penjelas pada awal paragraf dan di akhir kesimpulan berisi gagasan utama.

Contoh:


Tidak sedikit para pelajar yang memiliki penyakit malas membaca. Banyak ilmu yang tidak tergali oleh mereka. Mereka hanya mengandalkan peran guru dalam menerima ilmu. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Minat membaca buku di kalangan pelajar masih rendah.


Paragraf di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Kalimat Penjelas:
    1. Tidak sedikit para pelajar yang memiliki penyakit malas membaca.
    2. Banyak ilmu yang tidak tergali oleh mereka.
    3. Mereka hanya mengandalkan peran guru dalam menerima ilmu.
    4. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan.
  •  Kalimat Utama: Minat membaca buku di kalangan pelajar masih rendah.

3. Paragraf Campuran ( Gabungan antara Deduktif dan Induktif)

Paragraf ini dikembangkan dengan memposisikan gagasan utama pada kalimat utama di awal paragraf yang diikuti beberapa gagasan penjelas (kalimat penjelas), kemudian gagasan utama ditegaskan kembali pada akhir paragraf.

Contoh:


Ide atau gagasan merupakan sumber kreativitas manusia. Berbeda dengan dengan ide yang berarti akal pikiran. Ide dalam hal ini menjadikan seseorang mempunyai kemampuan untuk menciptakan suatu karya. Hal inilah yang menjadikan suatu karya dapat bernilai tinggi dan berharga. Intinya kreativitas seseorang dapat dilihat dari hasil pemikiran atas ide-ide yang mendasarinya.


Paragraf di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.

  • Kalimat Utama: Ide atau gagasan merupakan sumber kreativitas manusia.
  • Kalimat Penjelas:
    1. Berbeda dengan ide yang berarti akal pikiran.
    2. Ide dalam hal ini menjadikan seseorang mempunyai kemampuan untuk menciptakan suatu karya.
    3. Hal inilah yang menjadikan suatu karya dapat bernilai tinggi dan berharga.
    4. Intinya kreativitas seseorang dapat dilihat dari hasil pemikiran atas ide-ide yang mendasarinya.

Dalam paragraf campuran, rumusan pada kalimat awal dan akhir tidak sama tetapi memiliki kesamaan gagasan. Jadi dalam paragraf campuran, kalimat pada akhir paragraf merupakan penegasan bukan pengulangan.

Referensi


  1. Abdul, Somad Adi. (2009). Aktif dan kreatif Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 979-462- 850-6.
  2. Edukatif, Tim. (2016). Mahir belajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. ISBN 978-602-298-986-2.
  3. Eka, Devita. Isnatun, Siti. (2019). Bahasa Indonesia Kelas VIII. Bogor: Yudistira. ISBN 978 602-299-718-4

Baca juga yang ini

Tulis unek-unek