Apa Itu Mobilitas Sosial dan Mengapa Itu Penting?

oleh Gurunakal

Apakah kamu setuju kalau peluang seseorang sebagian dapat ditambatkan ke status sosial ekonomi mereka saat lahir? Apakah yang terlahir (maaf) miskin akan tetap hidup miskin dan melarat? Atau sebaliknya yang terlahir kaya akan tetap hidup kaya dan makmur?

Mobilitas Sosial

Sumber: Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi

Kita tidak bisa mengetahui hal semacam itu dengan pasti karena peluang setiap orang dalam kehidupan berbeda-beda. Bisa saja mereka yang terlahir dari keluarga kurang berada bisa hidup makmur, sementara yang terlahir dari keluarga berada hidup di bawah kesusahan.

Meskipun ‘undian’ terlahir kaya atau miskin akan terus membentuk kehidupan generasi yang akan datang, memanjat tangga sosial ekonomi adalah hal yang memungkinkan. Namun, hal itu bermuara pada peluang yang diberikan orang di negara tempat mereka tinggal.

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) melaporkan sebagian besar ekonomi negara-negara di dunia gagal memberikan kondisi di mana warganya dapat berkembang, seringkali dengan margin yang besar.

Akibatnya, peluang individu dalam kehidupan tetap tertambat pada status sosial ekonomi mereka saat lahir, yang mengakar pada ketidaksetaraan historis. Ini adalah masalah besar tidak hanya bagi individu, tetapi juga masyarakat dan ekonomi.

Lebih lanjut lagi disebutkan kalau modal manusia adalah kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, apa pun yang merusak alokasi talenta terbaik dan menghambat akumulasi modal manusia dapat secara signifikan menghambat pertumbuhan.

Mobilitas sosial yang buruk ditambah dengan ketimpangan kesempatan yang menopang gesekan ini, menunjukkan bahwa jika tingkat mobilitas sosial meningkat, itu dapat bertindak sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi.

Agar masalah seperti ini bisa teratasi, pada tahun 2020 Forum Ekonomi Dunia merancang Indeks Mobilitas Sosial Global perdana sebagai sarana bagi para pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi bidang-bidang untuk meningkatkan mobilitas sosial dan mempromosikan peluang yang dibagi secara merata di ekonomi mereka, terlepas dari perkembangan mereka.

Apa Itu Mobilitas Sosial?


Menurut Forum Ekonomi Dunia, mobilitas sosial dapat diartikan sebagai pergerakan dalam lingkungan pribadi baik “ke atas” atau “ke bawah” dari seorang individu dalam kaitannya dengan orang tua mereka.

Secara absolut, mobilitas sosial adalah kemampuan seorang anak untuk mengalami kehidupan yang lebih baik daripada orang tua mereka. Di sisi lain, mobilitas sosial relatif adalah penilaian dampak latar belakang sosial ekonomi pada hasil individu dalam kehidupan.

Forum Ekonomi Dunia menggunakan kinerja lima pilar utama dalam mengukur mobilitas sosial suatu negara. Mereka adalah layanan kesehatan, pendidikan, akses teknologi, kondisi kerja, dan perlindungan sosial.

Data tersebut menunjukkan kalau negara-negara dengan mobilitas sosial tingkat tinggi memiliki tingkat ketimpangan pendapatan yang lebih rendah dan memberikan peluang yang sama bagi warga negaranya di masing-masing dari lima pilar.

Dari 82 negara yang diperingkat, 10 posisi teratas diisi oleh negara-negara dari benua Eropa yang dipimpin oleh Denmark dengan skor 85,2. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-67 dengan skor 49,3.

Lalu apa artinya skor tersebut? Sebagai contoh, jika seseorang dilahirkan dalam keluarga berpenghasilan rendah di Denmark, maka kira-kira akan dibutuhkan dua generasi untuk mencapai pendapatan rata-rata.

Sebaliknya, jika seseorang terlahir dari keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia, maka dibutuhkan lebih banyak generasi untuk mencapai pendapatan rata-rata pada laju pertumbuhan saat ini. Artinya, peluang untuk mendapatkan kesetaraan dalam pendapatan membutuhkan waktu lebih lama di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kenapa Mobilitas Sosial Penting?


Menurut Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development), ketika seseorang dari keluarga berpenghasilan rendah memiliki sedikit peluang untuk naik, sementara mereka yang dari keluarga kaya hampir terjamin untuk mempertahankan posisi istimewa mereka, maka ‘elevator sosial’ menjadi rusak. Ini dapat memiliki konsekuensi ekonomi, sosial, dan politik yang berbahaya:

  • Mobilitas sosial yang rendah dapat mengikis dasar pertumbuhan ekonomi

Kurangnya mobilitas ke atas (upward mobility) untuk mereka di bagian bawah menyiratkan bahwa banyak bakat kurang berkembang dan peluang investasi yang berpotensi menguntungkan tidak dieksploitasi. Kurangnya mobilitas ke bawah (downward mobility) bagi mereka yang berada di atas menjanjikan sewa persisten untuk beberapa orang dengan mengorbankan banyak orang, dengan biaya efisiensi tinggi.

  • Prospek mobilitas adalah penentu penting kepuasan hidup dan kesejahteraan

Orang yang memperoleh status sosial ekonomi dibandingkan dengan orang tuanya cenderung lebih baik di sepanjang dimensi sosial dan kesejahteraan yang luas (contohnya seperti partisipasi masyarakat, hubungan pribadi, kesejahteraan subjektif) daripada mereka yang terjebak di bawah. Sebaliknya, risiko mobilitas turun yang lebih tinggi cenderung mengurangi kepuasan hidup dengan meningkatkan persepsi ketidakamanan keuangan.

  • Prospek mobilitas juga penting untuk kohesi sosial dan partisipasi demokratis

Penelitian menunjukkan bahwa persepsi kesetaraan peluang dapat mengurangi kemungkinan konflik sosial. Perspektif mobilitas ke atas melemahkan ketidakpuasan ekonomi, sementara masyarakat yang lebih stagnan lebih mudah memunculkan perasaan pengucilan sosial. Peluang rendah untuk mobilitas ke atas dapat mengurangi partisipasi demokratis, dan orang-orang yang menghadapi risiko mobilitas ke bawah atau kehilangan status lebih kecil kemungkinannya untuk merasa bahwa suara mereka diperhitungkan. Ini terkait dengan tingkat kepercayaan yang lebih rendah pada pemerintah.

Apa Saja Hambatan Mobilitas Sosial yang Lebih Besar?


Sosiolog membuat perbedaan antara mobilitas sosial absolut dan relatif dalam menganalisis mobilitas antar generasi. Mobilitas sosial absolut berkaitan dengan jumlah absolut atau proporsi orang dalam kelompok sosial yang bergerak ke atas atau ke bawah. Sedangkan mobilitas sosial relatif berkaitan dengan peluang orang-orang dari berbagai latar belakang untuk mencapai posisi sosial yang berbeda.

Faktor-faktor penentu dan penghambat mobilitas sosial relatif tidak dipahami dengan baik. Faktor-faktor penjelas yang potensial meliputi:

  • Pencapaian pendidikan;
  • Kemiskinan masa kecil dan perkembangan psikologis serta perilaku yang terkait;
  • Keluarga dan strategi yang mereka adopsi untuk mendukung anak-anak mereka, termasuk akses ke modal keuangan, sosial dan budaya. Dengan kata lain, bukan hanya uang tetapi nilai-nilai, perilaku dan jaringan kontak yang memengaruhi akses ke peluang;
  • Sikap, harapan, dan aspirasi, termasuk keengganan terhadap risiko; dan
  • Ekonomi dan hambatan lainnya yang digunakan beberapa kelompok untuk “menimbun peluang”, misalnya seperti praktik anti-persaingan yang membatasi akses ke profesi seperti hukum dan yang dapat mendiskriminasi kelompok tertentu.

Referensi


  1. “3 Obstacles to Social Mobility in Singapore: Singapore University of Social Sciences.” Singapore University of Social Sciences, 1 Nov. 2019, www.suss.edu.sg/blog/detail/3-obstacles-to-social-mobility-in-singapore.
  2. Aldridge, Stephen. Social Mobility: A Discussion Paper. Performance and Innovation Unit, 2001. File PDF.
  3. “Global Social Mobility Index 2020.” World Economic Forum, 19 Jan. 2020, www.weforum.org/reports/global-social-mobility-index-2020-why-economies-benefit-from-fixing-inequality.
  4. Jones, Katie. “Ranked: The Social Mobility of 82 Countries.” Visual Capitalist, 7 Feb. 2020, www.visualcapitalist.com/ranked-the-social-mobility-of-82-countries/.
  5. OECD. “What Exactly Is Social Mobility? Why Social Mobility Matters.” COPE Policy Brief, Juni 2018, oe.cd/social-mobility-2018.

Baca juga yang ini

Tulis unek-unek