Apa yang Dimaksud dengan Sistem Kekerabatan?

oleh Gurunakal

Halo semuanya, kali ini kita akan membahas sistem kekerabatan yang digunakan oleh masyarakat ada negeri kita. Ayo baca bahasan ini sampai tuntas agar pengetahuanmu bertambah luas.


Indonesia adalah negara besar yang dihuni oleh ratusan juta orang dari beragam suku yang berbeda, dengan adat budayanya masing-masing. Nah, berkaitan dengan hubungan kekerabatan atau kekeluargaan, masyarakat adat kita mengenal tiga sistem kekerabatan, yaitu parental, patrilineal, dan matrilineal.

Pengertian Sistem Kekerabatan


Sistem kekerabatan adalah sistem hubungan sosial yang menghubungkan orang-orang dalam suatu budaya yang sedang atau dianggap terkait dan menentukan serta mengatur kewajiban timbal balik mereka. Ia memiliki cakupan yang luas dan bersinggungan dengan agama, ekonomi, politik, dan sistem sosial lainnya.

Menurut Thomas Gladwin, setiap sistem kekerabatan terdiri dari sejumlah pola sikap dan perilaku yang lebih atau kurang kaku dan ditentukan secara budaya terhadap kategori individu tertentu dalam komunitas atau suku seseorang; pola-pola ini dilambangkan pada tingkat verbal. Masing-masing individu ini ditandai dengan istilah hubungan yang menentukan, setidaknya sampai batas tertentu, bagaimana seseorang harus merasakan dan bertindak terhadap orang ini.

Gladwin lebih lanjut menjelaskan kalau sistem kekerabatan bervariasi dalam berbagai bentuk organisasi sosial di seluruh dunia sehubungan dengan tiga karakter; (1) sejauh mana hubungan silsilah diakui untuk tujuan sosial, (2) cara kerabat diklasifikasikan dan dikelompokkan, (3) adat istiadat tertentu yang dengannya perilaku kerabat, seperti yang dikenali, diklasifikasikan dan dikelompokkan, diatur dalam urusan mereka satu sama lain.

Sistem Kekerabatan di Indonesia


Sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat adat Indonesia ada tiga macam, yaitu sistem kekerabatan parental, patrilineal, dan matrilineal.

1. Sistem Kekerabatan Parental

Sistem kekerabatan parental atau bilateral adalah sistem kekerabatan menarik garis keturunan dari pihak ayah dan ibu. Di sini anak menghubungkan diri dengan kedua orangtuanya. Anak juga menghubungkan dirinya dengan kerabat bapak dan ibunya secara bilateral.

Dalam sistem kekerabatan ini kedua orang tua maupun kerabat dari bapak dan ibunya memberlakukan peraturan yang sama baiknya tentang perkawinan, hak dan kewajiban serta pewarisan. Beberapa masyarakat adat yang menganut sistem kekerabatan parental antara lain masyarakat Aceh, Jawa, Madura, dan Sunda.

2. Sistem Kekerabatan Patrilineal

Sistem kekerabatan patrilineal adalah sistem kekerabatan yang mengikuti garis keturunan bapak. Di sini anak menghubungkan dirinya dengan kerabat bapaknya berdasarkan garis keturunan pria secara unilateral. Keturunan dari pihak bapak (laki-laki) dinilai mempunyai kedudukan lebih tinggi serta hak-haknya juga akan mendapatkan lebih banyak. Sistem kekerabatan ini biasanya berlaku pada masyarakat adat Batak, Nias dan Bali.

3. Sistem Kekerabatan Matrilineal

Sistem kekerabatan matrilineal adalah sistem kekerabatan yang mengikuti garis keturunan ibu. Di sini anak menghubungkan dirinya dengan kerabat ibu berdasarkan garis keturunan perempuan secara unilateral. Dalam sistem kekerabatan ini keturunan menurut garis ibu dipandang sangat penting sehingga menimbulkan hubungan pergaulan kekeluargaan yang jauh lebih rapat dan meresap di antara para warga persekutuannya. Masyarakat adat di Indonesia yang paling dikenal dengan sistem kekerabatan matrilineal adalah masyarakat Minangkabau.

Referensi


  1. Gladwin, Thomas. “Comanche Kin Behavior (dalam bahasa Inggris).” American Anthropologist, vol. 50, no. 1, 1948, hal. 73–94. JSTOR. Diakses 9 April 2021.
  2. Hubungan Kekerabatan.” Wikipedia. Diakses 9 April 2021.
  3. Kinship System (dalam bahasa Inggris).” Merriam-Webster.com Dictionary, Merriam-Webster. Diakses 9 April 2021.
  4. Read, D.W. “Kinship Systems (dalam bahasa Inggris).” The International Encyclopedia of Anthropology, H. Callan (Ed.) hal. 1–16. Wiley Online Library. Diakses 9 April 2021.
  5. Sri Sudaryatmi, Triyono, R. F. (2017). “Praktik Perkawinan Campuran Antar Masyarakat Adat di Kota Batam dan Akibat Hukumnya (Studi Pada Perkawinan Campuran Antara Pria Batak dan Wanita Minangkabau di Sungai Panas Kota Batam).” Diponegoro Law Journal, vol. 6, no. 2, hal. 1-12. Universitas Diponegoro. Diakses 9 April 2021.

Baca juga yang ini

Tulis unek-unek